Pemilik kost dan rumah sewa hidup dengan satu kenyataan yang jarang dibahas: penyewa tidak memperlakukan pintu seperti pemilik. Daun dibanting saat terburu-buru, handle ditarik dengan koper di tangan lain, kunci diputar oleh penyewa yang berganti setiap tahun. Pintu menjadi salah satu komponen bangunan yang dipakai paling kasar dan, kalau salah pilih bahan, diganti paling sering. Di sinilah keputusan kecil saat membangun berubah menjadi biaya rutin selama bertahun-tahun.
Menghitung biaya yang sering tak terlihat
Mari pakai angka ilustrasi, bukan klaim pasti, hanya untuk menggambarkan polanya. Bayangkan sebuah kost dengan sepuluh kamar yang memakai pintu kayu biasa. Iklim Balikpapan yang lembap membuat kayu mengembang, daun mulai seret, dan rayap menggerogoti dari bawah. Anggaplah pemilik perlu menyerut, mengecat ulang, atau mengganti dua sampai tiga daun setiap tahun, ditambah pemanggilan tukang. Biaya kecil yang berulang ini, kalau dijumlahkan sepuluh tahun, sering melampaui selisih harga awal seandainya sejak awal memilih pintu yang tidak menuntut perawatan.
Aluminium memutus siklus itu. Material ini tidak dimakan rayap, tidak berkarat, dan tidak memuai atau menyusut oleh kelembapan. Tidak ada pelitur ulang, tidak ada penyerutan daun yang seret, tidak ada penggantian karena lapuk. Perawatannya cukup dilap berkala. Bagi pemilik kost, ini berarti satu kategori pengeluaran rutin hilang dari pembukuan, dan satu sumber keluhan penyewa ikut hilang.

